Selama ini akrab dengan istilah "Bridezilla" hanya lewat film Hollywood. Sekedar drama para calon pengantin perempuan yang ingin mencari perhatian, pikir saya saat itu. Sampai akhirnya mengalami sendiri. Panik berlebihan sampai-sampai merasa sulit bernafas.
Bagi tiap perempuan, tampil cantik di hari pernikahan itu adalah wajib hukumnya. Begitupun yang saya rasakan. Mendapat pujian di hari pertunangan memang bikin melayang tapi di satu sisi juga menambah beban bagi saya. Kenapa beban? Karena otomatis saya ingin hari pernikahan dan resepsi yang merupakan puncak acara dapat menandingi hari pertunangan saya dari berbagai aspek. Baik itu dari segi makanan, dekor, susunan acara, pakaian, hingga yang paling penting yaitu make up!
Sering saya melihat pengantin dengan make up yang amburadul. Bedak pecah-pecah, foundation yang tak sesuai dengan warna kulit, bulu mata yang tampak sungguh palsu, dan masih banyak kekacauan lainnya. Pengalaman itu membuat saya hati-hati dalam memilih make up artist yang akan menangani muka saya nantinya. Tadinya masalah ini tidak menjadi concern terbesar saya karena saya sudah merencanakan untuk menggunakan make up artist yang juga mendandani saya waktu tunangan dulu. Namun emang dasar tidak jodoh, ternyata si doski ditugaskan ke luar negeri bertepatan dengan tanggal pernikahan saya. Membaca BBMnya itu membuat saya ingin nangis darah sekaligus panik tak menentu. Rasanya ingin marah, tapi sama siapa? Memang sih, dia berjanji akan merekomendasikan temannya yang tak kalah ciamik. Tapi hati saya tetap ketar ketir karena saya belum bisa percaya sepenuhnya dengan si make up artist ini. Alhasil, berbekal pengalaman bekerja di majalah dulu, saya langsung mengontak beberapa teman yang bekerja sebagai fashion stylist dan beauty editor majalah. Yah, setidaknya referensi dari mereka dapat menambah pilihan saya.
Sempat sih browsing make up artist di majalah wedding. Ternyata sulit amat. Selain pilihan yang terlalu banyak, foto-foto yang dimasukkan ke majalah pasti sudah melalui proses editing, dan yang paling menyebalkannya lagi kebanyakan menggunakan model bule atau chinese. Yah, secara kulit bule dan chinese putih kayaknya gampang untuk dimake up dengan model gimanapun. Kurang applicable gituh kalau untuk kulit agak gelap seperti saya.
Kendala lainnya yaitu, si make up artist ini harus rela untuk saya boyong ke Banda Aceh selama 4 hari. Kenapa bisa jadi 4 hari? Karena hari nikah dan resepsinya memang berjarak 4 hari yang diselingi upacara adat "Boh Gaca" dan "Manoe Pucok". Ribet memang. Kalau mau ditotal, acara saya nanti akan berlangsung selama 7 hari, yang berisi acara "Rapat Keluarga dan Panitia", "Khatam Al-Quran" dan "Boh Gaca"selama 3 hari. Padahal kalau bisa memilih, saya cuma ingin pernikahan yang intimate. Tapi kayaknya sih nggak mungkin ya. Meskipun mama saya menawarkan untuk mengadakan resepsi kecil-kecilan untuk teman dekat, tapi saya memilih untuk menolaknya saja. Lebih baik uangnya digunakan untuk dana bulan madu sajalah nanti.
Sejauh ini saya belum menemukan siapa yang bakal mendandani saya nantinya. Ada sih beberapa make up artist yang saya kira bisa cocok namun setelah ditanya, harganya over budget banget. Masa iya make up sebanyak 4 kali hampir 50 juta? Wah, bisa pingsan saya jadinya :/
Yah, mudah-mudahan saja saya dapat segera menemukan make up artist yang ciamiks dan sesuai budget. Any recommendations?
No comments:
Post a Comment