Hari ini tepat dua minggu setelah inseminasi. Tiga hari sebelum tanggal yang ditentukan untuk testpack. Pagi itu seperti biasa suami membangunkan untuk shalat subuh berjamaah. Sayapun bangun beranjak ke kamar mandi. Tiba-tiba saya berteriak histeris karena melihat ada darah saat saya buang air kecil. Awalnya masih berpikir positif kalau ini adalah flek yang kata orang-orang hasil pembuahan yang menempel pada dinding rahim (implantasi). Tapi lama kelamaan darahnya semakin mengucur. Yah, mungkin memang belum rejeki saya dan suami.
Padahal beberapa hari sebelumnya masih yakin bakal positif. Entah karena otak yang memberikan sugesti pada tubuh saya untuk merasakan ciri-ciri orang hamil. Atau mungkin karena memang ciri-ciri hamil mirip dengan ciri-ciri menjelang haid. Wallahualam.
Baru dapat kabar, sinshe yang biasa kami datangi sudah meninggal. Belum sempat menelepon kesana untuk mengucapkan belasungkawa. Padahal rencananya kami ingin tetap berobat kesana seiring dengan pengobatan medis. Masih belum tahu langkah apa yang harus saya dan suami ambil setelah ini. Yang pasti, istirahat dulu dari program selama Ramadhan dan ingin konsentrasi pada ibadah terlebih dahulu. Berusaha pasrah dan ikhlas meskipun air mata tidak henti-hentinya mengalir...
Saturday, July 6, 2013
Monday, July 1, 2013
The Journey of Insemination
Akhirnya memutuskan untuk inseminasi setelah melakukan terapi pemulihan sperma sejak November tahun lalu. Terapi yang dilakukan berupa kunjungan ke Sinshe yang menyarankan untuk mengkonsumsi ramuan China dan ditambah dengan burung puyuh yang ternyata cukup berkhasiat menambah kualitas sperma. Selain itu suami juga mengkonsumsi vitamin yang diberikan oleh Dr. Eric Soh Boon Swee dari Island Hospital, Penang.
Untuk inseminasi, kami memilih Dr. Ivan Sini dari Klinik Morula IVF RS. Bunda. Tadinya mau nyobain di Penang, tapi karena terbentur kendala waktu dan ribet bolak baliknya, akhirnya Dr. Ivan jadi pilihan kami. Ketemu si dokter cukup sulit. Sempat beberapa kali dibatalin karena jadwalnya yang padat. Kenapa memilih dokter ini? Selain karena banyak yang berhasil, si dokter ternyata sahabat kakaknya suami saat sama-sama sekolah di Australia dulu. Ditambah lagi kakak sepupu suami yang bekerja di RS. Bunda sangat membantu kelancaran kami untuk bisa ketemu dokter.
Pertama kali ketemu dokter, beliau langsung menjelaskan panjang lebar setelah tahu riwayat saya dan suami. Si dokter bilangnya, masih ada kemungkinan untuk hamil secara alami, cuma akan butuh waktu dan harus bersabar. Tapi kalau ingin cepat, ya jalannya adalah inseminasi. Saya dan suami setuju untuk langsung inseminasi saat masa subur nanti. Kalau tidak salah, kunjungan pertama saya itu 5 hari setelah mens selesai. Alhamdulillah setelah dilakukan transvaginal, rahim saya tidak bermasalah. Telurnya pun banyak, yang artinya sedang masa subur. Dokterpun langsung menjadwalkan inseminasi di bulan berikutnya. Diberikan resep obat berupa tablet Dipthen untuk saya konsumsi di H2 - H5, ditambah lagi resep suntik di H6 - H9 sebelum inseminasi nanti. Dipthen ini harus diminum pada waktu yang sama setiap harinya sebanyak 2 tablet. Sedangkan suami mendapat vitamin untuk menambah kualitas sperma. Saya belum melakukan HSG karena dokter bilang belum perlu. Mudah-mudahan saja inseminasi pertama ini berhasil sehingga saya tidak perlu menjalani proses HSG yang katanya sakit banget itu. Huuuft...
Rincian kedatangan pertama:
Tonicard Kapsul - Rp 600.000/30 kapsul
Eturol - Rp 186.000/30 kapsul
Clinic Administration Fee - Rp 50.000
Ultrasonograph Fee - Rp 175.000
Consultation & Treatment Fee - Rp 250.000
Rincian obat saya:
Dipthen - Rp 144.000/10 tablet
Puregon 50 IU - Rp 1.620.000/3 ampul
Pastik - Rp 1.800/3 buah
Jarum BD No. 27 G x 0.5 - Rp 3.300/3 buah
Spuit 3 cc Terumo Needle - Rp 13.500/3 buah
Home Service - Rp 175.000/visit
Tambahan 3 kali home visit Rp 450.000
Haid saya jatuh pada tanggal 10 Juni 2013 sampai dengan 15 Juni 2013. Siklus haid agak tidak teratur, tapi untuk yang terakhir siklusnya 30 hari.
H3
Darah mulai berkurang malah menjurus kering.
H4
Darah muncul lagi, mungkin karena pembalut biasa diganti dengan pantyliner yang lebih tipis. Mulai merasa mood acak kadut, tidak stabil dan sangat sensitif. Lebih sensitif dari biasanya.
H5
Badan pegel linu dan pusing yang tak tertahankan
H6 - H8
Hari pertama mulai suntik Puregon 50 IU. Sepertinya obat ini berfungsi untuk memperbesar ukuran telur di rahim perempuan. Obat ini harus disimpan di kulkas karena harus selalu dalam keadaan dingin. Suster di klinik menyarankan hari pertama agar disuntik dengan bantuan suster yang datang ke tempat. Biayanya sekitar RP 175.000/visit. Awalnya saya sok yakin bisa ngelanjutin suntik sendiri di hari-hari berikutnya. Atau minta bantuan suami. Tapi ternyata, setelah mengalaminya, waduh, nggak kuat deh suntik sendiri. Yang disuntik itu perut bagian bawah. Jarum masuk sih nggak sakit, tapi saat obatnya mulai disuntikkan duuh rasanya periiiih banget. Alhasil saya meminta suster untuk datang kembali di suntikan berikutnya.
H9
Kembali menemui dokter untuk memeriksa keadaan telur apakah sudah cukup besar untuk dibuahi atau belum. Berhubung janjiannya jam 4, jadi saya datang duluan ke klinik. Suami menyusul sepulang kantor. Alhasil saat ketemu dokter suami tidak ada. Ternyata telurnya belum cukup besar. Cuma 17mm. Seharusnya untuk inseminasi itu ukuran yang dibutuhkan sekitar 18mm. Jadi dokter menyarankan saya untuk menambah suntik dua kali lagi. Yang dilanjutkan dengan suntik pemecah telur di hari berikutnya.
Dokter memperkirakan suntik pemecah telur hari Jumat, 21 Juni 2103 dan inseminasi dapat dilakukan pada hari Minggu, 23 Juni 2013.
Rincian kedatangan kedua:
Clinic Administration Fee - Rp 50.000
Ultrasonograph Fee - Rp 175.000
Consultation & Treatment Fee - Rp 400.000
Puregon 50 IU - Rp 1.080.000/2 ampul
Spuit 3cc Terumo Needle - Rp 9.000/2 buah
Jarum BD No. 27 G x 0.5 - Rp 2.200/2 buah
Ovidrel - Rp 765.000/1 ampul
Pastik - Rp 1.800/3 buah
H10 - H11
Suntik ditambah dua hari lagi agar ukuran telurnya bisa lebih besar. Saya memutuskan untuk mendatangi saja kliniknya langsung agar suntiknya dibantu oleh suster. Hari terakhir saya suntik, saya sempat bertanya pada si suster jam berapa baiknya besok saya datang untuk suntik pecah telur. Si suster yang saya lupa namanya ini bilang, semakin malam semakin baik karena dibutuhkan maksimal 36 jam sebelum inseminasi. Kata si suster, kalau kemalaman, suntiknya bisa dilakukan di RS. Bunda Poli C Kamar D. Setelah mempersiapkan diri untuk suntik jam 11 malam, tiba-tiba jam 8.30 malam saya mendapat telepon dari klinik untuk konfirmasi kedatangan suntik pecah telur. Kata si suster, saya ditunggu sampai jam 9.30 malam kalau tidak saya harus ke RS. Bunda untuk suntik. Saya sempat marah sih, karena informasi yang saya terima sehari sebelumnya dari suster yang saya lupa namanya itu berbeda. Sempat parno ketakutan inseminasi gagal hanya karena hal ini. Tapi si suster menenangkan saya, katanya insya Allah tidak akan kenapa-napa. Huh, nyebelin!
H12
Hari bebas suntik dan bebas klinik!
H13
Hari inseminasi yang disepakati oleh dokter untuk inseminasi. Berhubung Dr. Ivan sedang keluar kota, jadi proses inseminasi saya digantikan oleh Dr. Anggia Melanie Lubis. Dokternya masih muda banget. Tapi saya coba positive thinking, usia tidak mempengaruhi tingkat keberhasilan inseminasi. Toh, Dr. Anggi pun masih dibawah pengawasan Dr. Ivan. Jam 8 pagi suami datang duluan ke klinik untuk menyetor spermanya. Sempat deg-degan takut kalau jumlah spermanya tidak mencukupi. Alhamdulillah, 2 jam kemudian kami mendapati hasil spermanya cukup. Malah bagus, kalau kata Dr. Anggi. Total spermanya setelah melalui proses washing ada sebanyak 3.990 juta. Melebihi standar yang telah ditetapkan oleh WHO. Hari itu saya ditemani oleh suami, mama, mama mertua, adik perempuan, dan adik sepupu. Sempat tegang banget saat dokternya datang dan menyuruh saya untuk ngengkang di kursi kebesaran. Agak risih karena ada mertua sih sebenarnya. Hihi. Tapi akhirnya saat proses berlangsung, mama dan mama mertua keluar ruangan. Sayapun cuma ditemani suami. Sebenarnya prosesnya sendiri sih tidak sakit. Cuma ngilu karena membayangkan ada selang yang masuk ke lubang vejayna menuju rahim. Dokter menyuruh saya untuk rileks, tarik nafas panjang dan tidak mengkepit agar rahimnya bisa terbuka. Akhirnya saya mencoba untuk tidak ngebayangin si selang itu. Happy thoughts ajalah pokoknya.
Rincian kedatangan ketiga:
Intra Uterine Insemination Fee - Rp 2.000.000
Utrogestan 100mg - Rp 249.000/30 kapsul
Utrogestan 200mg - Rp 247.500/15 kapsul
Natavit - Rp 126.000/30 kapsul
Ascardia 80mg - Rp 16.500/15 tablet
Setelah proses inseminasi selesai, saya diharuskan berbaring selama 15 menit. Tapi saya berbaring lebih lama, agar spermanya bisa langsung masuk kedalam tanpa hambatan. Suster menyarankan saya agar tidak banyak jalan-jalan dan lebih banyak beristirahat di rumah. Tapi siang itu saya sekeluarga sempat mampir ke Plaza Indonesia untuk makan siang. Lalu langsung beranjak pulang untuk istirahat. Di minggu terakhir saya ngantor pun saya memutuskan untuk tidak masuk, daripada mengambil resiko. Tapi di hari ketiga setelah inseminasi, saya harus melakukan pemotretan untuk majalah pagi-pagi buta. Sampai hari ini belum berani nyetir sendiri jadi kemana-mana harus ditemani atau pakai taksi. Mudah-mudahan ikhtiar saya dan suami dapat diberkahi Allah swt. Setelah baca-baca forum dan blog mereka yang sudah berpengalaman inseminasi, tidak banyak yang bisa dilakukan selain istirahat, jangan stress dan banyak berdoa.
Total keseluruhan: Rp 8.790.600
Semoga dilancarkan semuanya.
Bismillah, ya Allah.....
Untuk inseminasi, kami memilih Dr. Ivan Sini dari Klinik Morula IVF RS. Bunda. Tadinya mau nyobain di Penang, tapi karena terbentur kendala waktu dan ribet bolak baliknya, akhirnya Dr. Ivan jadi pilihan kami. Ketemu si dokter cukup sulit. Sempat beberapa kali dibatalin karena jadwalnya yang padat. Kenapa memilih dokter ini? Selain karena banyak yang berhasil, si dokter ternyata sahabat kakaknya suami saat sama-sama sekolah di Australia dulu. Ditambah lagi kakak sepupu suami yang bekerja di RS. Bunda sangat membantu kelancaran kami untuk bisa ketemu dokter.
Pertama kali ketemu dokter, beliau langsung menjelaskan panjang lebar setelah tahu riwayat saya dan suami. Si dokter bilangnya, masih ada kemungkinan untuk hamil secara alami, cuma akan butuh waktu dan harus bersabar. Tapi kalau ingin cepat, ya jalannya adalah inseminasi. Saya dan suami setuju untuk langsung inseminasi saat masa subur nanti. Kalau tidak salah, kunjungan pertama saya itu 5 hari setelah mens selesai. Alhamdulillah setelah dilakukan transvaginal, rahim saya tidak bermasalah. Telurnya pun banyak, yang artinya sedang masa subur. Dokterpun langsung menjadwalkan inseminasi di bulan berikutnya. Diberikan resep obat berupa tablet Dipthen untuk saya konsumsi di H2 - H5, ditambah lagi resep suntik di H6 - H9 sebelum inseminasi nanti. Dipthen ini harus diminum pada waktu yang sama setiap harinya sebanyak 2 tablet. Sedangkan suami mendapat vitamin untuk menambah kualitas sperma. Saya belum melakukan HSG karena dokter bilang belum perlu. Mudah-mudahan saja inseminasi pertama ini berhasil sehingga saya tidak perlu menjalani proses HSG yang katanya sakit banget itu. Huuuft...
Rincian kedatangan pertama:
Tonicard Kapsul - Rp 600.000/30 kapsul
Eturol - Rp 186.000/30 kapsul
Clinic Administration Fee - Rp 50.000
Ultrasonograph Fee - Rp 175.000
Consultation & Treatment Fee - Rp 250.000
Total: Rp 1.261.000
Rincian obat saya:
Dipthen - Rp 144.000/10 tablet
Puregon 50 IU - Rp 1.620.000/3 ampul
Pastik - Rp 1.800/3 buah
Jarum BD No. 27 G x 0.5 - Rp 3.300/3 buah
Spuit 3 cc Terumo Needle - Rp 13.500/3 buah
Home Service - Rp 175.000/visit
Tambahan 3 kali home visit Rp 450.000
Total: Rp 2.407.600
Haid saya jatuh pada tanggal 10 Juni 2013 sampai dengan 15 Juni 2013. Siklus haid agak tidak teratur, tapi untuk yang terakhir siklusnya 30 hari.
H3
Darah mulai berkurang malah menjurus kering.
H4
Darah muncul lagi, mungkin karena pembalut biasa diganti dengan pantyliner yang lebih tipis. Mulai merasa mood acak kadut, tidak stabil dan sangat sensitif. Lebih sensitif dari biasanya.
H5
Badan pegel linu dan pusing yang tak tertahankan
H6 - H8
Hari pertama mulai suntik Puregon 50 IU. Sepertinya obat ini berfungsi untuk memperbesar ukuran telur di rahim perempuan. Obat ini harus disimpan di kulkas karena harus selalu dalam keadaan dingin. Suster di klinik menyarankan hari pertama agar disuntik dengan bantuan suster yang datang ke tempat. Biayanya sekitar RP 175.000/visit. Awalnya saya sok yakin bisa ngelanjutin suntik sendiri di hari-hari berikutnya. Atau minta bantuan suami. Tapi ternyata, setelah mengalaminya, waduh, nggak kuat deh suntik sendiri. Yang disuntik itu perut bagian bawah. Jarum masuk sih nggak sakit, tapi saat obatnya mulai disuntikkan duuh rasanya periiiih banget. Alhasil saya meminta suster untuk datang kembali di suntikan berikutnya.
H9
Kembali menemui dokter untuk memeriksa keadaan telur apakah sudah cukup besar untuk dibuahi atau belum. Berhubung janjiannya jam 4, jadi saya datang duluan ke klinik. Suami menyusul sepulang kantor. Alhasil saat ketemu dokter suami tidak ada. Ternyata telurnya belum cukup besar. Cuma 17mm. Seharusnya untuk inseminasi itu ukuran yang dibutuhkan sekitar 18mm. Jadi dokter menyarankan saya untuk menambah suntik dua kali lagi. Yang dilanjutkan dengan suntik pemecah telur di hari berikutnya.
Dokter memperkirakan suntik pemecah telur hari Jumat, 21 Juni 2103 dan inseminasi dapat dilakukan pada hari Minggu, 23 Juni 2013.
Rincian kedatangan kedua:
Clinic Administration Fee - Rp 50.000
Ultrasonograph Fee - Rp 175.000
Consultation & Treatment Fee - Rp 400.000
Puregon 50 IU - Rp 1.080.000/2 ampul
Spuit 3cc Terumo Needle - Rp 9.000/2 buah
Jarum BD No. 27 G x 0.5 - Rp 2.200/2 buah
Ovidrel - Rp 765.000/1 ampul
Pastik - Rp 1.800/3 buah
Total: Rp 2.483.000
H10 - H11
Suntik ditambah dua hari lagi agar ukuran telurnya bisa lebih besar. Saya memutuskan untuk mendatangi saja kliniknya langsung agar suntiknya dibantu oleh suster. Hari terakhir saya suntik, saya sempat bertanya pada si suster jam berapa baiknya besok saya datang untuk suntik pecah telur. Si suster yang saya lupa namanya ini bilang, semakin malam semakin baik karena dibutuhkan maksimal 36 jam sebelum inseminasi. Kata si suster, kalau kemalaman, suntiknya bisa dilakukan di RS. Bunda Poli C Kamar D. Setelah mempersiapkan diri untuk suntik jam 11 malam, tiba-tiba jam 8.30 malam saya mendapat telepon dari klinik untuk konfirmasi kedatangan suntik pecah telur. Kata si suster, saya ditunggu sampai jam 9.30 malam kalau tidak saya harus ke RS. Bunda untuk suntik. Saya sempat marah sih, karena informasi yang saya terima sehari sebelumnya dari suster yang saya lupa namanya itu berbeda. Sempat parno ketakutan inseminasi gagal hanya karena hal ini. Tapi si suster menenangkan saya, katanya insya Allah tidak akan kenapa-napa. Huh, nyebelin!
H12
Hari bebas suntik dan bebas klinik!
H13
Hari inseminasi yang disepakati oleh dokter untuk inseminasi. Berhubung Dr. Ivan sedang keluar kota, jadi proses inseminasi saya digantikan oleh Dr. Anggia Melanie Lubis. Dokternya masih muda banget. Tapi saya coba positive thinking, usia tidak mempengaruhi tingkat keberhasilan inseminasi. Toh, Dr. Anggi pun masih dibawah pengawasan Dr. Ivan. Jam 8 pagi suami datang duluan ke klinik untuk menyetor spermanya. Sempat deg-degan takut kalau jumlah spermanya tidak mencukupi. Alhamdulillah, 2 jam kemudian kami mendapati hasil spermanya cukup. Malah bagus, kalau kata Dr. Anggi. Total spermanya setelah melalui proses washing ada sebanyak 3.990 juta. Melebihi standar yang telah ditetapkan oleh WHO. Hari itu saya ditemani oleh suami, mama, mama mertua, adik perempuan, dan adik sepupu. Sempat tegang banget saat dokternya datang dan menyuruh saya untuk ngengkang di kursi kebesaran. Agak risih karena ada mertua sih sebenarnya. Hihi. Tapi akhirnya saat proses berlangsung, mama dan mama mertua keluar ruangan. Sayapun cuma ditemani suami. Sebenarnya prosesnya sendiri sih tidak sakit. Cuma ngilu karena membayangkan ada selang yang masuk ke lubang vejayna menuju rahim. Dokter menyuruh saya untuk rileks, tarik nafas panjang dan tidak mengkepit agar rahimnya bisa terbuka. Akhirnya saya mencoba untuk tidak ngebayangin si selang itu. Happy thoughts ajalah pokoknya.
Rincian kedatangan ketiga:
Intra Uterine Insemination Fee - Rp 2.000.000
Utrogestan 100mg - Rp 249.000/30 kapsul
Utrogestan 200mg - Rp 247.500/15 kapsul
Natavit - Rp 126.000/30 kapsul
Ascardia 80mg - Rp 16.500/15 tablet
Total: Rp 2.639.000
Setelah proses inseminasi selesai, saya diharuskan berbaring selama 15 menit. Tapi saya berbaring lebih lama, agar spermanya bisa langsung masuk kedalam tanpa hambatan. Suster menyarankan saya agar tidak banyak jalan-jalan dan lebih banyak beristirahat di rumah. Tapi siang itu saya sekeluarga sempat mampir ke Plaza Indonesia untuk makan siang. Lalu langsung beranjak pulang untuk istirahat. Di minggu terakhir saya ngantor pun saya memutuskan untuk tidak masuk, daripada mengambil resiko. Tapi di hari ketiga setelah inseminasi, saya harus melakukan pemotretan untuk majalah pagi-pagi buta. Sampai hari ini belum berani nyetir sendiri jadi kemana-mana harus ditemani atau pakai taksi. Mudah-mudahan ikhtiar saya dan suami dapat diberkahi Allah swt. Setelah baca-baca forum dan blog mereka yang sudah berpengalaman inseminasi, tidak banyak yang bisa dilakukan selain istirahat, jangan stress dan banyak berdoa.
Total keseluruhan: Rp 8.790.600
Semoga dilancarkan semuanya.
Bismillah, ya Allah.....
Tuesday, February 14, 2012
Up To Date
So I've had the meeting with Ara Photography to make me a pre-wedding video. We're gonna start shooting on Feb 26 the latest. The concept is still on process. The videos gonna last about one whole song. Our option is "Running" by No Doubt or "Happy Together" by Tahiti 80. But Mbak Fitri from Ara said that the song from No Doubt is more representable. Just like what the fiance had chosen. So let's see how it goes.
I've already got the invitation dummy. There's some things to change just yet. So I come directly to meet the designer and I've requested for him to change while I'm there. He surprised on how detail I am. He said that I'm unique and this is the first time for him to handle a client like me. Well, I think it's the polite way of him to say I'm controlling. Either way, I just don't care as long as the final result fulfill my satisfaction. Here's a little sneak peek of the cover of my invitation which is very much inspired by "500 Days of Summer". Actually, "Away We Go" and the layout of Frankie Magazine are also my references. I will upload the whole invitation later once it's all done.
Last night Kak Dewi asked me to check on the wordings of the marriage manual books. She asked if I want to add any personal wordings from me to my parents. Looking to the past, there's sure lot of things I should be asking apologize of to both of my parents. But I'm not sure if I want it to be written down on the book and let everyone to read it. But I will try to put up my personal words and make it nicer so I won't be so embarrassed then.
Ah, and yesterday I finally visited Flora Lines. This bridegila is still craving for pink peonies to hold on her wedding. Hah. So I went there and met Mbak Nini. She said that it's quite impossible to have peonies in March because they have it imported in June - July. I feel quite disappointed. But I give another alternative, fuchsia roses for my bouquet just like in this picture below. I don't want to add any other type of flowers or colors and not even baby breath. Maybe just some green leaves underneath it and pink ribbons to sweeten it up. The thing is, there's some risk I got to willing to take. There's a slight chances my roses bouquet might be broken or some leaves might be faded. Let's just hope it won't be happening. And I've ordered pink peonies for my second receptions in Jakarta. Hopefully she can provide it in May. In the mean time, I also check on other florist if they have pink peony in March. Crossing fingers!
I've already got the invitation dummy. There's some things to change just yet. So I come directly to meet the designer and I've requested for him to change while I'm there. He surprised on how detail I am. He said that I'm unique and this is the first time for him to handle a client like me. Well, I think it's the polite way of him to say I'm controlling. Either way, I just don't care as long as the final result fulfill my satisfaction. Here's a little sneak peek of the cover of my invitation which is very much inspired by "500 Days of Summer". Actually, "Away We Go" and the layout of Frankie Magazine are also my references. I will upload the whole invitation later once it's all done.
Last night Kak Dewi asked me to check on the wordings of the marriage manual books. She asked if I want to add any personal wordings from me to my parents. Looking to the past, there's sure lot of things I should be asking apologize of to both of my parents. But I'm not sure if I want it to be written down on the book and let everyone to read it. But I will try to put up my personal words and make it nicer so I won't be so embarrassed then.Ah, and yesterday I finally visited Flora Lines. This bridegila is still craving for pink peonies to hold on her wedding. Hah. So I went there and met Mbak Nini. She said that it's quite impossible to have peonies in March because they have it imported in June - July. I feel quite disappointed. But I give another alternative, fuchsia roses for my bouquet just like in this picture below. I don't want to add any other type of flowers or colors and not even baby breath. Maybe just some green leaves underneath it and pink ribbons to sweeten it up. The thing is, there's some risk I got to willing to take. There's a slight chances my roses bouquet might be broken or some leaves might be faded. Let's just hope it won't be happening. And I've ordered pink peonies for my second receptions in Jakarta. Hopefully she can provide it in May. In the mean time, I also check on other florist if they have pink peony in March. Crossing fingers!
Tuesday, February 7, 2012
To Make Or Not To Make
Is it really necessary to have pre-wedding videos to play at your wedding? Mom just asked me earlier if I want to make video collages of my childhood pictures. I think even if I want to play video on my wedding, it wouldn't involve any of my childhood photos. Not that I'm ashamed or anything, well that too, but I think it is just too common to use the metamorphosis theme as your wedding video.
My friend who just got married last week uploaded her pre-wedding video on facebook. It's very touching to see her journey to finally found her loved ones wrapped into a beautiful clip like that. You can feel the connection between both newlywed in the video. How happy they are and how they really love each other. That is the type of video I wanting to have for my own.
Few months ago, weeks after the engagement, I was meaning to make a stop motion pre-wedding video. But then I thought I wont be playing any videos during my wedding reception until mom asked. And now, I really think I need to make one. But to spend a lot of money to make the video, I really don't have the budget for that. Believe me, it is quite expensive to make that kind of video. Maybe I could just use my iPhone to make the video and ask a dear friend to shoot it for us. Or go for the last option, make a metamorphosis videos of me and the fiance by my own. We'll see.
ps: I was going to upload some great pre-wedding videos here. But the internet connection is really sucks. But I will upload it later.
My friend who just got married last week uploaded her pre-wedding video on facebook. It's very touching to see her journey to finally found her loved ones wrapped into a beautiful clip like that. You can feel the connection between both newlywed in the video. How happy they are and how they really love each other. That is the type of video I wanting to have for my own.
Few months ago, weeks after the engagement, I was meaning to make a stop motion pre-wedding video. But then I thought I wont be playing any videos during my wedding reception until mom asked. And now, I really think I need to make one. But to spend a lot of money to make the video, I really don't have the budget for that. Believe me, it is quite expensive to make that kind of video. Maybe I could just use my iPhone to make the video and ask a dear friend to shoot it for us. Or go for the last option, make a metamorphosis videos of me and the fiance by my own. We'll see.
ps: I was going to upload some great pre-wedding videos here. But the internet connection is really sucks. But I will upload it later.
Monday, February 6, 2012
Between Carnations and Roses
Wandering all around Mangga Dua to find the perfect flowers to use as the background decorations for my wedding. I was inspired by the backdrop of Forever 21 cashier at Grand Indonesia. The shocking pink roses are just too beautiful and irresistible. My decorator was meaning to use Jepara but I wasn't really into it. Using Jepara will not match my theme. He said using flowers as my background will cause a lot of money. So my mom suggested me to go find the flowers myself. It's impossible to use fresh flowers so I'm planning to just find the high quality artificial ones. I visited Forever 21 just to checked out how they made the backdrop. Took photos quietly while queuing to pay for some stuff that I wasn't planning to buy. Turns out they ordered the flowers from the USA. And I believe it costs a fortune, which doesn't fit my budget. So Mangga 2 is my very first option.
There are too many kind of flowers with various price. My background height is about 10x4 meters. Big size so I need dozens of flowers to fill it in. Unfortunately, the high quality artificial flowers which look almost the same as in Forever 21 is quite expensive. It costs about Rp 25.000 - Rp 35.000/6 buds. There's also artificial flowers that feel almost the same as the real ones that cost around Rp 250.000/12 buds. After doing some maths, if only I want the cheapest roses to fit in 10x4 meters, I will need to spend around Rp 85 millions. Crazy, right???
So I go for the second option, which is replacing roses with carnations. I have to re-assured myself for thousand times to finally choose this. The price is waaaaaaaaaaaay cheaper than the first option. But hopefully the carnations will look as good as roses. Ah, well....
There are too many kind of flowers with various price. My background height is about 10x4 meters. Big size so I need dozens of flowers to fill it in. Unfortunately, the high quality artificial flowers which look almost the same as in Forever 21 is quite expensive. It costs about Rp 25.000 - Rp 35.000/6 buds. There's also artificial flowers that feel almost the same as the real ones that cost around Rp 250.000/12 buds. After doing some maths, if only I want the cheapest roses to fit in 10x4 meters, I will need to spend around Rp 85 millions. Crazy, right???
So I go for the second option, which is replacing roses with carnations. I have to re-assured myself for thousand times to finally choose this. The price is waaaaaaaaaaaay cheaper than the first option. But hopefully the carnations will look as good as roses. Ah, well....
Thursday, February 2, 2012
Wednesday, February 1, 2012
Mad Bride
The invitation thingy is driving me crazy!
It would've been a piece of cake if only my skill in photoshop is in the advance level. Considering I'm the type of bride-to-be with high expectations and also not easy to satisfy, then it 's best for me to just do it all by myself. So I'm willing to cut off my sleeping hours just to learn how to get it done through some photoshop tutorials on the internet. I didn't have much time to sleep nor eat. I just can't rely on anybody no more. The only thing that is going on my mind is how to get it all done by myself on time.
The homework now is to design the calendar and maps for my invitation. I'll post the result soon. In the meantime, here are my references:



It would've been a piece of cake if only my skill in photoshop is in the advance level. Considering I'm the type of bride-to-be with high expectations and also not easy to satisfy, then it 's best for me to just do it all by myself. So I'm willing to cut off my sleeping hours just to learn how to get it done through some photoshop tutorials on the internet. I didn't have much time to sleep nor eat. I just can't rely on anybody no more. The only thing that is going on my mind is how to get it all done by myself on time.
The homework now is to design the calendar and maps for my invitation. I'll post the result soon. In the meantime, here are my references:



Subscribe to:
Posts (Atom)



